Agar Tak Lewat Jadwal Kawin dan Kebuntingan, SIRAPI Bantu Peternak Tuban Pantau Sapi
- 16 September 2026 12:03
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 79
Tubankab – Mengelola peternakan sapi bukan sekadar menyediakan pakan dan menjaga kesehatan ternak. Ketepatan waktu dalam penanganan reproduksi juga menentukan produktivitas. Namun, mengingat jadwal pemeriksaan kebuntingan atau siklus birahi berikutnya tidak selalu mudah bagi peternak.
Catatan di kertas yang rawan hilang atau sekadar mengandalkan ingatan bisa membuat jadwal penanganan terlewat. Jika tidak segera ditindaklanjuti, kondisi itu berpotensi menghambat reproduksi dan menurunkan produktivitas ternak.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban menghadirkan SIRAPI (Sistem Informasi Reproduksi Sapi). Inovasi berbasis teknologi ini membantu peternak dan petugas kesehatan hewan mengelola informasi reproduksi sapi secara lebih praktis, teratur, dan tepat waktu.
Kepala DKP2P Kabupaten Tuban, Eko Julianto, S.STP., MM., menjelaskan SIRAPI menjadi bagian dari digitalisasi pelayanan kesehatan hewan, khususnya dalam manajemen reproduksi sapi. Sistem ini mengintegrasikan pencatatan reproduksi sapi, pemantauan kebuntingan, kelahiran, dan gangguan reproduksi. SIRAPI juga dilengkapi fitur early warning system untuk mendeteksi waktu birahi, keterlambatan kawin, maupun potensi kegagalan reproduksi (majir).
Dengan sistem tersebut, petugas dapat melakukan pendampingan berdasarkan data yang tersedia sehingga penanganan reproduksi dapat dilakukan lebih tepat waktu.
“Melalui SIRAPI, data reproduksi sapi dapat dikelola secara lebih terstruktur. Peternak dan petugas dapat mengetahui jadwal penting reproduksi ternak sehingga penanganan bisa dilakukan lebih tepat waktu,” jelasnya, Rabu (16/9).
SIRAPI dikembangkan sebagai aplikasi berbasis web yang mudah digunakan. Peternak dapat mengaksesnya melalui peramban pada ponsel pintar tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan. Pengguna cukup memasukkan data dasar sapi, mulai identitas dan umur ternak hingga riwayat inseminasi buatan serta penanganan kesehatan.
Berdasarkan data tersebut, sistem membantu menghitung perkiraan jadwal penting dalam siklus reproduksi sapi. Salah satu fitur yang tersedia adalah pengingat otomatis yang memberikan notifikasi saat tiba waktu pemeriksaan kebuntingan maupun deteksi birahi ulang.
Dengan pengingat itu, peternak dan petugas kesehatan hewan memiliki acuan untuk melakukan tindak lanjut sesuai jadwal. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko keterlambatan penanganan reproduksi yang dapat menyebabkan sapi mengalami masa tidak produktif berkepanjangan.
“Teknologi ini kami arahkan agar benar-benar memberi manfaat bagi peternak. Bukan sekadar menghadirkan aplikasi, tetapi bagaimana data yang dimasukkan dapat membantu pelayanan kesehatan hewan menjadi lebih efektif,” ungkap Eko.
Pemanfaatan SIRAPI juga memberi manfaat bagi berbagai pihak yang terlibat dalam usaha peternakan. Bagi peternak, sistem tersebut dapat membantu mengefisienkan biaya operasional, mulai dari pakan hingga perawatan, sehingga produktivitas sapi dapat terjaga. Selain itu, pemantauan yang lebih teratur diharapkan dapat meminimalkan risiko kematian sapi.
Sementara bagi petugas kesehatan hewan dan dokter hewan, ketersediaan riwayat ternak yang lebih terstruktur memudahkan proses pemantauan dan penanganan. Informasi mengenai riwayat inseminasi, pemeriksaan, dan kesehatan sapi dapat menjadi dasar dalam menentukan pelayanan berikutnya.
Keberadaan SIRAPI juga dinilai penting bagi Pemkab Tuban dalam meningkatkan populasi sapi potong yang mengalami tren penurunan cukup signifikan dalam lima tahun terakhir. Di sisi lain, inovasi ini turut mendukung program Makan Bergizi Gratis dari sisi ketersediaan daging merah.
Lebih dari sekadar sistem pencatatan, SIRAPI menunjukkan pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan yang dekat dengan keseharian peternak. Dengan sistem tersebut, pemantauan jadwal reproduksi ternak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada catatan manual atau ingatan.
Eko menegaskan DKP2P Kabupaten Tuban akan terus mengembangkan pemanfaatan teknologi yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mendukung produktivitas peternakan.
“Harapannya, inovasi seperti SIRAPI dapat semakin memudahkan peternak, memperkuat pelayanan kesehatan hewan, dan pada akhirnya memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan peternak di Kabupaten Tuban,” pungkasnya. (ags/yav)










