Guru Madrasah Tuban Didorong Bangun Nilai Sosial dan Intelektual Siswa
- 04 March 2026 09:58
- Yavid
- Umum,
- 8
Tubankab - Kementerian Agama Kabupaten Tuban bersama Program Dukungan INOVASI Jawa Timur memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) melalui pelatihan bagi kepala madrasah dan guru Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Tuban, Rabu–Kamis (4–5/3). Kegiatan yang berlangsung di Aula Hasyim Asy’ari IAINU Tuban ini diikuti 39 peserta yang terdiri dari unsur Kantor Kementerian Agama Tuban, pengawas madrasah, kepala madrasah, serta guru kelas dari sejumlah MI.
Selain itu, Provincial Manager INOVASI Jawa Timur, Adri Budi S., menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah. Menurut dia, program tersebut telah dimulai sejak Januari 2026 melalui sejumlah tahapan, mulai dari sosialisasi KBC, pengambilan data awal (baseline), pelatihan tahap pertama bagi guru dan kepala madrasah (IN 1), pendampingan fasilitator daerah, hingga refleksi di tingkat madrasah dan kabupaten.
Menurut Adri, pada pelatihan tahap kedua (IN 2) ini peserta mendapatkan penguatan dua fokus nilai dalam Kurikulum Berbasis Cinta, yaitu nilai sosial dan nilai intelektual. Ia menjelaskan nilai sosial diarahkan untuk membangun hubungan yang aman dan kondusif di lingkungan madrasah.
“Guru diharapkan mampu memahami hubungan sosial yang sehat di madrasah, mengenali serta menolak perundungan dan berbagai bentuk kekerasan, sekaligus mengembangkan rencana aksi untuk membangun nilai sosial di lingkungan pendidikan,” ujarnya, Rabu (4/3).
Lebih lanjut, ia menuturkan nilai intelektual dalam Kurikulum Berbasis Cinta tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan nilai spiritual dan moral. Salah satu pilar utamanya adalah menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu sebagai sarana memahami keagungan penciptaan serta hikmah di balik syariat.
Selain itu, pendekatan pembelajaran juga mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan reflektif melalui metode pembelajaran yang mendalam. Integrasi antara akal dan hati tersebut diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang cerdas secara intelektual sekaligus memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan rangkaian pelatihan ini, Adri berharap dapat tumbuh bibit-bibit baru dari para peserta yang mengikuti program tersebut. Ia menilai ilmu yang diperoleh selama dua hari pelatihan diharapkan tidak berhenti pada peserta saja, tetapi dapat disebarluaskan dan diterapkan di lingkungan madrasah masing-masing sehingga memberi dampak nyata bagi proses pembelajaran.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, menekankan pentingnya penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di tengah dinamika dan tantangan kehidupan global saat ini. Menurut dia, madrasah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai cinta kepada peserta didik melalui proses pembelajaran.
“Dalam kondisi dunia saat ini, peran bapak dan ibu guru madrasah sangat penting untuk menyampaikan materi pembelajaran berbasis cinta kepada para siswa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Umi Kulsum berharap penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dapat berkontribusi dalam menyiapkan generasi masa depan yang berkarakter. Ia menambahkan para guru madrasah diharapkan mampu mendukung terwujudnya cita-cita besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, pengetahuan, dan tanggung jawab sosial kepada peserta didik. (yavid)










