Kolaborasi Dinas Pendidikan dan INOVASI Jawa Timur, Wujudkan Lingkungan Belajar Aman di Tuban
- 28 April 2026 20:06
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 22
Tubankab - Dalam rangka mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada anak, Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban bersama INOVASI Jawa Timur menggelar diseminasi Modul Budaya Belajar Aman, Nyaman, dan Gembira pada 28–29 April 2026 di Aula Disdik Tuban. Kegiatan ini menyasar pengawas SD se-Kabupaten Tuban dengan melibatkan Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) serta perwakilan guru kelas rendah dan tinggi dari tiap kecamatan.
Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap. Hari pertama diikuti pengawas dan KKKS bersama guru untuk pengenalan modul, diskusi, dan kerja kelompok. Hari kedua difokuskan pada praktik pembelajaran, materi hak anak, pencegahan kekerasan, serta penyusunan rencana tindak lanjut di sekolah.
Melalui kegiatan ini, Disdik Tuban mendorong penyebarluasan modul sekaligus penguatan pemahaman guru dan kepala sekolah. Harapannya, budaya belajar yang aman dan nyaman dapat diterapkan secara nyata di seluruh sekolah dasar.
Pada kesempatan tersebut, Provincial Manager INOVASI Jawa Timur, M. Adri Budi Sulistyo, menyampaikan kegiatan ini merupakan upaya menyebarluaskan praktik baik dari tiga sekolah pilot di Tuban yang telah berjalan sekitar lima bulan. “Terlihat adanya perubahan positif dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman sebagai rumah kedua bagi anak-anak,” ujarnya.
Menurut dia, indikator sederhana dapat dilihat dari ekspresi peserta didik. Anak yang ceria menunjukkan proses pembelajaran berjalan baik. Sebaliknya, kondisi murung menjadi tanda perlunya evaluasi di kelas.
Adri juga memaparkan data Rapor Pendidikan 2025 yang diperbarui Maret 2026. Iklim keamanan sekolah dasar di Tuban berada pada kategori baik, namun turun sekitar 2,25 poin. “Ini menjadi perhatian bersama. Kesejahteraan psikologis siswa dan guru juga menurun, sehingga perlu refleksi terhadap beban pembelajaran,” katanya.
Di sisi lain, pemahaman guru terhadap perundungan dan perlindungan anak meningkat. Hal ini diharapkan menekan pengalaman negatif siswa. Ia menambahkan, peningkatan laporan perundungan tidak selalu berarti kondisi memburuk, tetapi bisa menunjukkan keberanian siswa untuk melapor.
Selain itu, pemahaman guru terkait rokok, miras, dan narkoba meningkat dan diikuti penurunan pengalaman siswa. Meski demikian, perundungan, kekerasan, dan paparan zat berbahaya masih menjadi tantangan. “Diperlukan intervensi berbasis wilayah karena masih ada kesenjangan antar daerah,” ujarnya.
Ia berharap data Rapor Pendidikan dimanfaatkan sebagai bahan refleksi untuk perbaikan berkelanjutan. Adri juga mendorong seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga tuntas dan mengimplementasikan hasilnya di sekolah masing-masing.
Sementara itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI, Rusprita Putri Utami, dalam sambutannya yang dilakukan secara daring menegaskan bahwa pemerintah telah menetapkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman sebagai landasan kebijakan. “Regulasi ini memastikan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan melindungi seluruh warga sekolah,” ujarnya dalam sambutan daring.
Menurut dia, kebijakan tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, serta keamanan sosial dan kultural, termasuk di ruang digital. Pendekatan yang digunakan bersifat promotif, preventif, dan kolaboratif.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak. Sekolah, orang tua, masyarakat, dan media memiliki peran dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman. Guru didorong melakukan deteksi dini dan pembinaan, sementara orang tua menjadi mitra dalam pengasuhan.
Dalam implementasinya, pemerintah daerah diminta membentuk kelompok kerja atau Pokja budaya sekolah aman dan nyaman sebagai wadah koordinasi lintas sektor. Pembentukan Pokja ditargetkan paling lambat enam bulan sejak regulasi ditetapkan.
Rusprita menilai Kabupaten Tuban telah menunjukkan kolaborasi yang baik melalui pelaksanaan modul pembiasaan karakter hebat di 20 kecamatan. Ia berharap Tuban dapat menjadi contoh praktik baik di tingkat nasional dalam mewujudkan budaya sekolah yang aman dan nyaman secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan SD Disdik Tuban, M. Nurdin, menegaskan program budaya sekolah aman dan nyaman menjadi kebutuhan bersama yang tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. “Harus ada keterlibatan keluarga dan masyarakat, karena banyak persoalan juga muncul dari luar sekolah,” ujarnya.
Menurut dia, sistem pendidikan harus dibangun secara kolaboratif. Guru menjadi kunci utama sebagai teladan di sekolah. Sejak siswa datang hingga pulang, guru bertanggung jawab membentuk karakter dan mengawasi perilaku siswa. Peran tersebut diperkuat oleh kepala sekolah dan pengawas agar berjalan optimal.
Ia juga menekankan pentingnya perlindungan fisik dan mental siswa. Pengawasan perlu diperkuat untuk mencegah kekerasan, termasuk melalui pemasangan CCTV di titik rawan dengan memanfaatkan dana BOS. Selain itu, guru diminta lebih peka terhadap kondisi psikologis siswa dan menghindari perlakuan diskriminatif sekecil apa pun.
Di sisi lain, lingkungan sekolah harus dijaga tetap bersih, sehat, dan nyaman melalui kebiasaan bersama. “Budaya positif tidak cukup dipahami, tetapi harus dibiasakan dalam keseharian,” kata Nurdin.
Ia berharap hasil kegiatan ini segera disebarluaskan melalui KKG atau forum lainnya. Disdik Tuban menargetkan implementasi sudah berjalan maksimal pada tahun ajaran baru dan akan melakukan evaluasi langsung ke sekolah. “Kami ingin seluruh sekolah di Tuban benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak,” pungkasnya. (yavid)










