Kupas Tuntas Produksi Konten Berbasis AI, Founder GNFI Bekali 60 Pengelola Media Sosial di Tuban
- 23 July 2026 16:08
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 16
Tubankab - Membuat gambar, menyusun naskah, hingga memproduksi video kini dapat dilakukan dalam waktu lebih singkat dengan bantuan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Kemampuan inilah yang dipelajari 60 pengelola media sosial di Kabupaten Tuban dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Konten Media Sosial bersama Founder Good News From Indonesia (GNFI), Akhyari Hananto, Kamis (23/7).
Mengangkat tema “Memaksimalkan AI untuk Konten yang Menarik dan Berdampak”, kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Dandang Wacono, Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban tersebut membekali peserta dengan pemahaman hingga praktik pemanfaatan AI dalam produksi konten. Peserta berasal dari perangkat daerah serta sejumlah pengelola kanal informasi di Kabupaten Tuban.
Pada bimtek tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Tuban, Arif Handoyo, S.H., M.H., dalam sambutannya menekankan bahwa agar menempatkan AI sebagai mitra komunikasi publik. Menurutnya, perubahan cara masyarakat memperoleh informasi turut mengubah cara pemerintah berkomunikasi. Informasi kini hadir setiap saat, siapa pun dapat menjadi pembuat konten, sementara persaingan mendapatkan perhatian masyarakat semakin tinggi.
Kondisi itu membuat media sosial pemerintah tidak cukup hanya menjadi ruang dokumentasi kegiatan. Arif menyebut media sosial pemerintah harus berfungsi sebagai kanal informasi, edukasi, pelayanan publik, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.
Karena itu, kemampuan pengelola media sosial juga perlu berkembang. Selain mendokumentasikan kegiatan, admin media sosial perlu menguasai kemampuan sebagai storyteller, edukator, content creator, public communicator, hingga AI collaborator. AI dapat dimanfaatkan untuk mencari ide konten, menyusun caption, membuat ilustrasi, merangkum data, hingga menyiapkan naskah video.
Meski pekerjaan dapat dipermudah dengan AI, Arif mengingatkan kendali tetap berada di tangan manusia. Integritas, empati, verifikasi fakta, etika, dan tanggung jawab menjadi aspek yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
“AI tidak akan menggantikan manusia. Tetapi manusia yang mampu memanfaatkan AI akan mampu memberikan pelayanan informasi yang lebih baik,” ujarnya.
Memasuki sesi kedua, Akhyari Hananto membawa peserta pada praktik penggunaan AI dalam produksi multimedia. Melalui materi bertajuk “Artificial Intelligence untuk Multimedia”, Akhyari memperkenalkan perkembangan teknologi AI generatif serta cara memanfaatkannya untuk membuat konten visual. Salah satu materi yang dibedah adalah teknik prompting atau menyusun instruksi kepada AI.
Menurut Akhyari, sebuah prompt dapat dirancang melalui delapan unsur, yaitu subjek, aksi, lokasi, komposisi, pencahayaan, gaya visual, detail penting, dan batasan. Semakin terperinci instruksi yang diberikan, pengguna dapat mengarahkan AI untuk menghasilkan visual yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Menariknya, Tuban turut dijadikan contoh dalam praktik tersebut. Peserta diperlihatkan cara menyusun prompt dengan memasukkan karakter lokasi, komposisi, sudut kamera, pencahayaan, gaya visual, hingga detail tertentu yang tidak boleh muncul pada gambar.
Tak hanya itu, Supervisory Board Gerakan Kreatif Nasional (GeKrafs) itu juga mengenalkan reverse prompting. Melalui teknik ini, sebuah gambar referensi dapat dianalisis oleh AI untuk membaca subjek, gaya visual, komposisi, sudut kamera, pencahayaan, warna, hingga atmosfer. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk menyusun prompt baru.
Peserta juga dikenalkan dengan meta-prompting. Dengan pendekatan ini, pengguna dapat meminta AI mengajukan sejumlah pertanyaan terlebih dahulu mengenai visual yang ingin dibuat. Jawaban pengguna kemudian menjadi dasar bagi AI untuk menyusun instruksi yang lebih terperinci.
Pembahasan berlanjut pada pembuatan video berbasis AI. Akhyari mengenalkan berbagai teknik pergerakan kamera, mulai pan shot, tilt shot, tracking shot, dolly zoom, hingga static shot. Pemahaman terhadap istilah tersebut membantu pengguna memberikan instruksi visual yang lebih spesifik ketika membuat video menggunakan AI.
Di balik kemudahan produksi konten, aspek integritas tetap menjadi perhatian. Materi Akhyari menekankan pentingnya keterlacakan konten hasil AI, termasuk penggunaan watermark tidak kasatmata seperti SynthID dan pelabelan konten untuk membantu menghadapi misinformasi. Pengguna juga perlu memeriksa kembali input maupun output AI agar konten yang dihasilkan tidak memuat stereotip atau representasi yang keliru. (yav)










