Pemkab Tuban Perkuat Deteksi Dini Kanker Leher Rahim, Dinkes P2KB Dukung Target Eliminasi Nasional
- 02 June 2026 19:53
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 53
Tubankab – Upaya meningkatkan derajat kesehatan perempuan terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Tuban melalui langkah preventif berupa deteksi dini kanker leher rahim. Edukasi dan pemeriksaan kesehatan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit sejak dini.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) menggelar kegiatan “Sosialisasi dan Launching Deteksi Dini Kanker Leher Rahim melalui Pemeriksaan HPV DNA dan IVA” di Gedung Korpri Tuban, Selasa (2/6).
Dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, Dr. Ir. Budi Wiyana, M.Si. Dalam sambutannya, Sekda Tuban menekankan pentingnya menjaga kesehatan, khususnya bagi perempuan, sebagai bagian dari upaya menciptakan keluarga yang sehat dan berkualitas. Menurutnya, keterlibatan para istri pegawai negeri dalam kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan program skrining kanker leher rahim melalui pemeriksaan HPV DNA dan IVA.
“Pemeriksaan kesehatan sejak dini menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit. Kami berharap para peserta dapat menjadi penggerak di lingkungan masing-masing untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker leher rahim,” ungkapnya.
Selain itu, acara edukatif ini diikuti 100 peserta yang merupakan anggota Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Tuban. Hadir sebagai narasumber utama, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Tuban, Sri Rahayu, S.Pd., yang memberikan penguatan pemahaman mengenai pentingnya deteksi dini kanker leher rahim.
Upaya ini dilakukan sebagai respons atas pentingnya penguatan penanganan kanker serviks sekaligus mendukung target eliminasi nasional. Secara global, penyakit tersebut mencatat lebih dari 600 ribu kasus baru dan 340 ribu kematian pada 2020. Sementara itu, di Indonesia, kanker leher rahim masih menjadi salah satu jenis kanker yang memerlukan perhatian serius dalam aspek pencegahan dan penanganan.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Tuban, drg. Roikan, M.H., menegaskan bahwa deteksi dini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan perempuan sekaligus memperluas upaya pencegahan sejak awal. Menurutnya, pemeriksaan HPV DNA dan IVA memberikan peluang lebih besar untuk mengenali risiko kesehatan lebih cepat sehingga tindak lanjut medis dapat dilakukan secara tepat.
“Melalui pemeriksaan sejak dini, masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal. Karena itu, kami terus mendorong peningkatan kesadaran perempuan untuk melakukan skrining secara berkala sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan diri,” jelasnya.
Lebih lanjut, deteksi dini dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan peluang penanganan kesehatan yang lebih optimal. Di tingkat regional Jawa Timur, data BPJS Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular pada perempuan, dari 59.588 kasus pada 2023 menjadi 72.017 kasus pada 2024.
Karenanya, melalui kegiatan ini Dinkes P2KB Tuban berkomitmen memperkuat capaian deteksi dini sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. Metode kombinasi antara tes molekuler HPV DNA untuk mendeteksi materi genetik virus berisiko tinggi dan metode visual IVA dinilai akurat serta efektif untuk mendeteksi potensi kanker sebelum berkembang lebih lanjut.
Adapun skrining tersebut direkomendasikan bagi perempuan usia 30 hingga 69 tahun yang telah melakukan hubungan suami istri. Dengan landasan hukum yang kuat, termasuk Keputusan Menteri Kesehatan terkait Rencana Aksi Nasional, Pemkab Tuban berharap anggota Dharma Wanita yang hadir dapat menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing.
Di samping itu, para peserta diharapkan turut meningkatkan kesadaran imunisasi vaksin HPV serta berkontribusi dalam mendukung target eliminasi kanker leher rahim tingkat nasional maupun target global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) periode 2023–2030. (aris/yav)










