Kepala Kemenag Tuban, Umi Kulsum, menyampaikan sambutan pada kegiatan Refleksi dan Pendampingan Pilot Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Aula PLHUT Kemenag Tuban. (ist)

Refleksi Pilot KBC, Guru dan Kepala Madrasah Diajak Menjaga Budaya Belajar Bersama

Tubankab - Setelah beberapa bulan menjalani pendampingan, puluhan guru dan kepala madrasah di Kabupaten Tuban berkumpul untuk merefleksikan perubahan yang mulai tumbuh di ruang kelas mereka. Mulai dari kebiasaan berdiskusi antar guru hingga penerapan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), pengalaman tersebut dibagikan dalam kegiatan Refleksi dan Pendampingan Pilot KBC di Ruang Pertemuan PLHUT Kabupaten Tuban, Rabu (17/6).

Kegiatan yang menjadi penutup siklus pertama pendampingan INOVASI itu diikuti 40 peserta yang terdiri atas kepala madrasah, guru, pengawas, serta jajaran Kementerian Agama Kabupaten Tuban. Mereka berasal dari 10 Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang selama ini menjadi lokasi pelaksanaan program.

Adapun madrasah yang terlibat meliputi MI Ash Shomadiyah, MI NU Hidayatun Najah Tuban, MIN 1 Tuban, MIS Al-Mahbubiyah, MIS Futuh, MIS Hidayatun Najah, MIS Manbaul Ma'arif, MIS MIM IV Ulum Islamiyah, MIS Islamic International School BAS, serta MIS Tahfidul Qur'an Al-Uswah.

Dalam kegiatan tersebut, peserta berbagi pengalaman selama mengikuti pendampingan, mendiskusikan perubahan yang telah diterapkan dalam pembelajaran, sekaligus merumuskan langkah lanjutan agar hasil yang telah dicapai dapat terus berkembang di madrasah masing-masing.

Pada kesempatan itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, menegaskan pentingnya penguatan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Tim INOVASI dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program.

Menurutnya, penguatan KBC tidak boleh berhenti pada 10 madrasah binaan. Pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh selama pendampingan perlu diperluas agar memberi manfaat bagi lebih banyak satuan pendidikan.

"Kami menyampaikan terima kasih kepada Tim INOVASI dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penguatan Kurikulum Berbasis Cinta. Program ini diharapkan tidak berhenti pada madrasah binaan, tetapi dapat diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi," ujarnya.

Lebih lanjut, Umi Kulsum menekankan bahwa kepala madrasah memegang peran penting dalam keberhasilan implementasi KBC. Menurutnya, perubahan pola pikir harus dimulai dari pimpinan lembaga sebelum diteruskan kepada guru dan peserta didik.

"Perubahan harus dimulai dari kepala madrasah. Ketika kepala madrasah memahami dan menerapkan nilai-nilai KBC, maka semangat itu akan diteruskan kepada guru dan peserta didik sehingga mampu membentuk karakter yang kuat dan berakhlak mulia," tegasnya.

Selain itu, ia mengajak kepala madrasah, guru, dan pengawas untuk membagikan pengalaman yang telah diperoleh selama pendampingan kepada rekan-rekan lainnya. Dengan cara tersebut, nilai-nilai KBC dapat berkembang menjadi budaya belajar yang hidup di lingkungan madrasah.

Di akhir sambutannya, Umi Kulsum mengajak seluruh pemangku kepentingan mengambil peran dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan melalui penguatan karakter peserta didik.

"Mari kita siapkan peran dan kontribusi terbaik untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan. Kurikulum Berbasis Cinta harus menjadi ikhtiar bersama dalam membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan," pungkasnya.

Di sisi lain, STP-District Officer Tuban INOVASI Jawa Timur, Cahyadi Widi Wahyono, mengatakan bahwa refleksi menjadi bagian penting untuk melihat perkembangan program sekaligus menyiapkan langkah berikutnya. Menurutnya, tujuan utama pendampingan bukan sekadar melahirkan kegiatan baru, melainkan membangun kebiasaan yang pada akhirnya menjadi kebutuhan bagi guru.

Ia menjelaskan bahwa ketika sebuah kebiasaan telah tumbuh menjadi kesadaran, praktik tersebut akan tetap dilakukan tanpa harus terus diingatkan.

"Ketika kesadaran itu sudah menjadi kebutuhan, maka di mana pun tempatnya, tanpa harus dibiasakan lagi, seseorang akan tetap melakukannya," ujarnya.

Lebih lanjut, Cahyadi menyebut kegiatan refleksi ini menandai berakhirnya siklus pertama pendampingan bagi kepala madrasah dan guru. Meski demikian, berbagai tindak lanjut masih akan disiapkan untuk memperluas dampak program di madrasah.

Melalui refleksi ini, para peserta diharapkan membawa pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh ke lingkungan kerjanya masing-masing. Dengan demikian, budaya kolaborasi, diskusi, dan saling belajar antarpendidik dapat terus tumbuh serta memberi pengaruh positif terhadap proses pembelajaran di Kabupaten Tuban. (yav)

comments powered by Disqus